|
Sebuah Catatan Kecil dari Jerman |
|
Written by Zulazmi
|
|
Saturday, 28 November 2009 12:42 |
|
Sebuah catatan kecil dari Jerman Sudah satu bulan ini saya berada di Jerman tepatnya di kota Frankfurt dalam rangka tugas kantor. Selama satu bulan pula saya mencoba mengamati kehidupan masyarakat, pemerintah, lingkungan yang menurut saya sebenarnya kita bisa lakukan di negeri kita sendiri/perlu kita contoh (tentunya hal-hal yang baik) seperti :
- Kantong Plastik : Seluruh supermarket disini tidak menyediakan kantong belanja baik dari plastik maupun kertas secara gratis (kalau beli harga lumayan juga tuh). Hal ini dilakukan selain effisiensi perusahaan dan juga untuk mengurangi sampah yang ditimbulkan karenanya (padahal pemerintah hanya membuat himbauan bukan aturan tentang hal ini). Jadi tidak heran kalau melihat orang belanja disini dengan membawa keranjang belanja dari rumah (persis seperti ibu kita dahulu...sekarang apa masih ya?). Kalaupun ada satu dua supermarkert yang memfasilitasi kantong belanja secara gratis, biasanya pemilik supermarket bukanlah warga asli German dan ini lebih kepada persaingan usaha.
- Rokok : Ruang gerak para perokok semakin terbatas. Merokok hanya diperbolehkan ditempat yang telah ditentukkan. Jangan coba-coba merokok di area yang dilarang kalau tidak mau didenda yang cukup lumayan mahal. Kita tidak akan temui orang merokok sembarangan tempat seperti di Mall seperti yang kita bisa lihat di banyak Mall di negeri kita
 - Makanan Organik/Bio : Kalau dinegeri kita mungkin baru beras yang dikenal sebagai beras organik (maaf kalau saya kurang update), tapi disini hampir seluruh jenis bahan makanan dapat kita temukan dengan simbol organik/Bio. Sebagai contoh sebut saja telur ayam Bio yang dihasilkan dari ayam petelur yang tidak dikandangkan dan tidak mendapatkan makanan tambahan (mungkin kalau dikita seperti ayam piaran dirumah—rumah di desa). Demikian juga dengan susu sapi, kambing dan lain sebagainya. Bahkan yang lebih unik adalah minuman beralkohol seperti Anggur, Bir dan lainnya juga telah diperkenalkan produk organiknya. Namun saya belum melihat produk perikanan organik/Bio di German
- Sim Card Telephone : Penjualan SIM CARD dlakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, meskipun toko penjual berupa warung kecil/warnet. Setiap pembeli harus melampirkan ID card/Paspor kemudian dicatat dan langsung terdaftar di provider SIM Card dan isntansi lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya kerugian di pihak provider (karena tidak bayar...khususnya untuk yang pasca bayar) dan penyalahgunaan nomer telphone tersebut. Melihat itu, saya jadi teringat beberapa waktu lalu pemerintah kita pernah menerapkan aturan seperti ini, tapi tidak tahu apakah masih berjalan?
 - Hemat energi : Pemerintah German melarang pejualan produk seperti bola lampu yang tidak hemat energi. Dan larangan ini dilaksanakan betul oleh masyarakatnya. Karena disamping hemat energi tapi juga effisient karena daya tahan bola lampu bisa sampai enam tahun. Pemeriintah kita juga pernah mencanangkan hal yang sama, namun sayang sekali karena banyak pemalsuan merek dangang yang mengklaim produknya hemat energi belum dapat dibendung membuat masyarakat kita kurang perhatian dengan himbauan tersebut.
- Karcis Kereta : Transportasi utama penduduk disini terutama dalam kota adalah kereta api. Tiketnya murah (untuk ukuran orang German) dan jadwalnya selalu tepat. Menurut data yang ada 98 percent pengguna kereta api memiliki karcis. Jangan coba-coba tidak punya karcis, karena kalau terkena razia karcis dendanya adalah 40 Euro (ini denda dalam kota) dan harus dibayar ditempat. Kalau tidak bisa membayar saat itu, denda tersebut akan dikirim kerumah penumpang yang bersangkutan (dengan alamat di German). Apakah mungkin tidak membayar denda, terutama bagi para pendatang seperti saya, jawabnya hampir tidak mungkin, karena petugas kereta mencatat secara detail data kita pada saat razia karcis, dan data tersebut langsung tersebar luas untuk moda transportasi lainnya + kantor pajak. Jadi apabila kita akan meninggalkan negara tersebut, di airport, di pelabuhan, di stasiun kereta saat kita membeli tiket atau check in, pasti akan ada tagihan untuk denda tersebut. Saya hanya membayangkan, di Jakarta kira-kira yang beli karcis kereta Jabodetabek sampai 58 percent kah??
- Kinerja Pegawai (Etos Kerja) : Semula saya membayangkan seluruh pegawai disini memang sangat pintar dan trampil sehingga negaranya bisa maju. Ternyata rahasianya bukan itu, melainkan kinerja/Etos Kerja yang tinggi. Setiap orang yang terikat dalam suatu perjanjian kerja baik itu pegawai pemerintah maupun swasta memiliki job deskripsi yang jelas, adanya evaluasi yang terukur dan teratur serta reward and punishment yang benar-benar diterapkan. Karena peraturan tersebut membuat seseorang benar-benar harus memiliki kinerja yang prima. Jadi jangan coba-coba bermalas-malasan dalam bekerja kalau tidak ingin kehilangan pekerjaan.. Kira-kira berapa persen kantor dan pegawai di negeri kita yang memiliki aturan dan dijalankan serta dipatuhi oleh karyawannya??.
Berangkat dari point-point diatas, saya berkesimpulan pada dasarnya kita bisa seperti mereka asal seluruh aturan main yang ada benar-benar diterapkan. Hindari atau kurangi pengecualian dari setiap aturan yang telah ditetapkan. Mungkin tulisan ini bisa menginspirasi kakak/teman/adik-adik yang saat ini memiliki peluang/kesempatan untuk mengatur kantor/usahanya agar menjadi lebih baik lagi. Sekali lagi mohon maaf tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan negara kita dengan negara lain apa lagi menyobongkan diri, namun lebih sebagai sebuah catatan kecil dan himbauan agar hidup kita bisa lebih teratur dan bermakna. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Wassalam Zulazmi |
|
Last Updated on Saturday, 28 November 2009 16:30 |
Comments
RSS feed for comments to this post.